Belu, News  

Dicopot dari Kepala OPD Hingga Tak Diakui Wabup Belu, Nasib Terkini Pejabat ini Tak Terduga

Dicopot dari Kepala Bappeda Hingga Tak Diakui Wabup, Nasib Sang Pejabat ini di Luar Dugaan 
Wabup Belu JT. Ose Luan saat melantik Frans Manafe sebagai Asisten Sekda Belu bersama pejabat lainnya pada tahun 2019 lalu. foto by tim Dinas Kominfo Belu

TIMORDAILYNEWS.COM, ATAMBUA – Jalan hidup seseorang tidak ada yang tahu pasti. Meski sudah sudah direncanakan sebaik mungkin, kenyataannya bisa saja berbeda jauh.

Begitupun dengan karir seseorang apalagi seorang aparatur sipil negara (ASN), selain kompetensi dan pangkat sebagai syarat menduduki jabatan tertentu dan melalui seleksi, ada saja faktor lain yang terkesan turut mempengaruhi karena berkaitan erat dengan kepercayaan pimpinan.

Hal ini juga terjadi pada Frans Manafe, salah satu pejabat ASN di Kabupaten Belu, wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL.

Berdasarkan data yang dihimpun Timor Daily, Frans Manafe adalah salah satu pejabat yang mendapat tempat istimewa pada awal masa kepemimpinan Bupati Willy Lay dan Wakil Bupati JT. Ose Luan.

Setelah dilantik secara resmi pada 17 Februari 2016, Bupati Willy Lay dan Wabup JT. Ose Luan mempercayakan Frans Manafe menduduki jabatan sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pemgembangan Daerah (BP4D).

BP4D adalah organisasi perangkat daerah (OPD) yang strategis dan dikenal sebagai dapur pembangunan sebuah daerah yang bisa saja menjadi impian seserorang untuk memimpin instansi tersebut.

Namun jabatan itu dipegang oleh Frans Manafe hingga akhir tahun 2019 saja. Pada tanggal 7 November 2019, Frans Manafe diberhentikan dari jabatan sebagai Kepala BPDD digantikan Florianus Nahak.

Frans saat itu dimutasikan untuk menduduki jabatan sebagai Asisten Sekda Belu Bidang Perekonomian dan Pembangunan yang sebelumnya dijabat oleh Arnol Bria Seo.

Penjabat Sekda Tegaskan Segera Evaluasi Penggunaan Anggaran Covid-19 di Kabupaten Belu
Penjabat Sekda Belu, Frans Manafe

Bupati Belu Willy Lay dan Wabup JT. Ose Luan mungkin saja punya pertimbangan lain atas mutasi ini, karena keduanya yang punya kewenangan untuk memilih sosok yang tepat untuk memimpin suatu instansi di masa kepemimpinan mereka.

Namun di sisi lain, terbesit informasi, mutasi tersebut ada unsur politis. Frans Manafe dicopot sebagai Kepala BP4D karena dianggap melawan Bupati Belu Willy Lay dengan mengoreksi kebijakannya.

“Informasinya, entah benar atau tidak, Pak Frans mencoba mengingatkan Pak Bupati terkait kebijakan. Lalu mungkin Pak Bupati tersinggung dan menganggap Pak Frans sudah melawannya. Makanya dicopot,” ungkap sumber Timor Daily tanpa bersedia mengungkap kebijakan apa yang dimaksud.

Terhadap mutasi ini, Frans Manafe tak protes ataupun melakukan reaksi apapun. Beberapa kali media ini berusaha wawancara untuk meminta komentarnya namun ditolak. Menurutnya, sebagai ASN, dirinya harus siap ditempatkan di mana saja, juga siap saja jika diberikan kepercayaan oleh atasan.

Hingga Oktober 2020 atau sekitar 11 bulan menjalani tugas dan jabatan sebagai Asisten Sekda, Frans Manafe kemudian mendapat kepercayaan dari Gubernur NTT sebagai Penjabat Sekda Belu menggantikan penjabat sebelumnya Marsel Mau Meta yang dianggap tidak tuntas memroses Sekda Definitif.

Tanggal 5 Oktober 2020, Frans Manafe resmi dilantik oleh Penjabat Bupati Belu saat itu, Zakarias Moruk. “Derita” baru datang lagi mendera Frans Manafe. Pasalnya, pasca dua bulan menjalankan tugas sebagai Penjabat Sekda Belu, Frans Manafe kembali mendapat perlakuan yang di luar dugaannya.

Meski mendapatkan SK dari Gubernur NTT, ternyata dirinya tidak diakui oleh Wakil Bupati Ose Luan yang kembali aktif setelah menjalani masa cuti kampanye sebagai Calon Wakil Bupati Belu berpasangan dengan Willy Lay sebagai Calon Bupati Belu periode 2020-2025.

Wakil Bupati JT. Ose Luan saat itu secara terang-terangan di muka forum menegaskan bahwa dirinya tidak mengakui Frans Manafe sebagai penjabat Sekda Belu seperti diberitakan media ini sebelumnya.

“Saya sengaja tidak sebut penjabat Sekda karena saya tidak akui itu. Jadi sepanjang seorang pejabat defenitif, saya hanya kenal asisten II. Penjabat Sekda saya tidak kenal, non prosedural. Silahkan mengemban jabatan itu tapi saya tidak akan pernah menyapa. Bukan karena ada apa-apanya tapi apa adanya saja, seperti itu,” tegas Wabup Ose Luan dalam rapat koordinasi pimpinan perangkat daerah, camat dan Lurah se-Kabupaten Belu di Gedung Wanita Betelalenok Atambua, Senin (07/12/2020).

Wabup Belu Ose Luan meminta agar saat dirinya masuk kembali dari cuti kampanye itu seharusnya penjabat Sekda Frans Manafe melapor diri. Namun kenyataannya pada hari itu tidak ada penjabat sekda yang melapor.

Mendapat perlakuan tersebut, Frans Manafe tak meresponnya. Dia menerima perlakuan tersebut karena menurutnya itu pernyataan seorang pimpinan yang tak perlu dilawan.

Kini, masa jabatan Willy Lay dan Ose Luan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Belu akan berakhir. Tinggal hitungan jam.

Willy Lay dan Ose Luan yang terkenal dengan sandi politik SAHABAT akan berakhir pada besok Rabu (17/2/2021) karena sudah tepat lima tahun memimpin Rai Belu  semenjak 17 Februari 2016 silam.

Keduanya tidak bisa melanjutkan kepemimpinannya karena gagal meraih simpati dari rakyat Belu pada Pilkada 9 Desember 2020 lalu.  Mayoritas warga Belu lebih menginginkan perubahan kepemimpinan dan itu jatuh pada pasangan Dokter Agus Taolin dan Alo Haleserens yang terkenal dengan tagline SEHATI.

Meski akhirnya keduanya menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang saat ini sedang berlangsung prosesnya dan tinggal menunggu sidang putusan.

Kembali ke sosok Frans Manafe sang penjabat Sekda Belu. Meski awalnya tak diakui oleh Wabup JT. Ose Luan, Frans tetap menjalankan tugasnya sebagaimana tertuang dalam SK penunjukkan dari Gubernur NTT, Viktor Laiskodat.

Dan yang di luar dugaan, Frans Manafe kini harus melanjutkan kepemimpinan Willy Lay dan Ose Luan untuk memimpin Rai Belu. Berdasarkan edaran dari Mendagri, daerah pelaksana Pilkada yang masa jabatan Bupati dan wakil Bupatinya berakhir sebelum pelantikan kepala daerah terpilih maka Sekdanya yang menjalankan tugas sebagai pelaksana harian hingga adanya kepala daerah definitif.

Ini berarti, tugas sebagai kepala daerah sementara menjadi tanggung jawab Frans Manafe yang saat ini menjabat sebagai Penjabat Sekda Belu.

Dan undangan untuk serah terima jabatan (sertijab) ini sudah disebar. Berdasarkan informasi yang diperoleh media ini, sertijab dari  Willy Lay dan Ose Luan kepada Penjabat Sekda Belu sebagai pelaksana harian  Bupati Belu pada pukul 11.00 WITA bertempat di Gedung Wanita Betelalenok Atambua.

Sesuatu yang di luar dugaan adalah, Willy Lay dan Ose Luan harus mengakhiri masa jabatannya dan menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepada seseorang yang pernah dicopot dari jabatan dan orang yang pernah tak diakui sebagai Penjabat Sekda. Apakah memang ini sangat sesuatu? (TIMOR DAILY/TIMORDAILYNEWS.COM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *