Belu, News  

Dinilai Tak Hargai Wartawan, Begini Jawaban Bupati Belu

Dinilai Tak Hargai Wartawan, Begini Jawaban Bupati Belu
Foto Bersama Bupati Belu, Wakil Bupati Belu dengan Wartawan Anggota Pena Batas RI-RDTL usai coffee morning di Atambua, Jumat (7/5/2021). foto by prokopim Belu

TIMORDAILYNEWS.COM, ATAMBUA – Persatuan Jurnalis Belu Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL menyesalkan sikap Bupati Belu terhadap sejumlah wartawan saat menjalankan tugas peliputan di wilayah Kabupaten Belu, Perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Dilansir sindonews, Pena Batas RI – RDTL kesal dengan sikap Bupati Belu yang baru dilantik itu karena dinilai kurang menghargai wartawan.

Ketua Pena Batas, Stefanus Dile Payong kepada wartawan di Atambua, Kamis (06/05/2021) mengatakan, menyesali sikap yang dilakukan oleh Bupati kepada jurnalis saat sesi wawancara.

Menurut Stefanus, ada sejumlah sikap dan tindakan Bupati Belu di sejumlah tempat yang terkesan kurang menghargai wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik terutama saat sesi wawancara.

Wartawan, kata Stefan, memaklumi ketika bupati menyampaikan pernyataan tersebut bersifat mengajak, namun pada kenyataannya Bupati lebih bersifat memaksa dan kurang menghargai.

Saat wartawan door stop, Bupati terlihat mengatur wartawan tentang pertanyaan-pertanyaan dan membatasi waktu pertanyaan.

Sesungguhnya, lanjut Stefanus, hal seperti itu sudah diketahui dan dipahami wartawan sebelum melakukan doorstop narasumber.

Tak sampai di situ, ketika wartawan mengajukan pertanyaan kepada narasumber yang adalah pejabat dari pusat berkaitan dengan perhatian pemerintah bagi korban Badai Seroja, bupati langsung memotongnya sambil menyampaikan bahwa pertanyaan dari wartawan itu di luar konteks.

Padahal wartawan mengajukan pertanyaan kepada pejabat dari pemerintah pusat yang kapasitasnya sangat tepat untuk menjelaskan atas pertanyaan tersebut.

Hal ini, kata Stefanus, menunjukkan Bupati belum paham secara benar cara kerja dan profesi jurnalistik.

Lebih lanjut Stefanus mengatakan, sikap kurang menghargai wartawan lagi-lagi ditunjukan Bupati Belu.

Dengan nada tegas dan di hadapan banyak orang, Bupati Belu meminta seorang wartawan untuk berdiri tegak lurus saat wawancara.

“Berdiri lurus, simpan botol baru bertanya,” kata bupati kepada seorang wartawati seperti dilansir sindonews.

Semua perintah bupati diikuti wartawan saat itu dan tidak melakukan protes banyak karena wartawan memahami jalurnya dan tidak ingin terjadi insiden di saat ada kunjungan pejabat pusat.

“Terkait dengan kejadian ini saya sebagai ketua Pena Batas RI-RDTL sangat meyayangkan sikap dan sifat Bupati.  Sebagai pekerja pers kita merasa sangat dibatasi dalam membutuhkan informasi. Kita memahami karena Pak Bupati baru bertugas, namun sebagai pejabat publik dan sebagai mitra seharusnya Pak Bupati tidak pantas menunjukan sikap seperti itu, apalagi semua kejadian itu terjadi di hadapan masyarakat banyak,” tegas Ketua Pena Batas.

Sebagai jurnalis, tambah Stefan yang juga wartawan TV MNC Group ini bahwa pihaknya tidak butuh dihormati tapi sebagai mitra kita harus saling menjaga dan mendukung dalam memajukan wilayah ini.

Bupati Belu saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan Whatsapp mengatakan, itu bagian dari sopan santun saat melakukan wawancara.

“Silahkan kalo (kalau, red) mau kecewa. Karena itu bagian dari sopan santun dan kalo mau wawacara, jangan tongkat tangan…dan harus sopan. Silahkan kalo kecewaa ..buat kan saja surat dan sampaikan kepada Dinas Kominfo,” kata Bupati.

Untuk diketahui, pagi ini Jumat (6/5/2021), Bupati Belu Agus Taolin dan Wakil Bupati Alo Haleserens mengundang seluruh wartawan di Kabupaten Belu untuk mengelar coffee morning.

Momentum ini akan digunakan Pena Batas untuk menyampaikan langsung kekecewaan mereka termasuk bagaimana bersinergi di tapal batas. (r-3/sindonews/TIMOR DAILY/TIMORDAILYNEWS.COM)

Editor : Okto M

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *