Ini Data Sementara Korban Jiwa Dan Kerusakkan Akibat Bencana Banjir Dan Lonsor Di Alor

Ini Data Sementara Korban Jiwa Dan Kerusakkan Akibat Bencana Banjir Dan Longsor Di  Alor

Kondisi kerusakan akibat banjir disebuah wilayah di Kabupaten Alor

 

TIMORDAILY.COM, ALOR- Bencana Banjir dan longsor akibat badai seroja yang terjadi di NTT umumnya dan Kabupaten Alor khususnya membawa duka yang mendalam bagi masyarakat.

Bencana ini tidak hanya merusakkan berbagai infrastruktur, fasilitas umum, perumahan dan lahan kebun masyarakat, namun juga merengut korban jiwa manusia.

Data sementara yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Alor melalui Plt. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Alor, Christina Beli kepada Wartawan di Kalabahi, Rabu 10 April 2021 menjelaskan, data yang ada hingga hari Sabtu pada pukul 11.00 Wita tercatat sebanyak 28 orang meninggal dunia, 13 korban hilang, dan 25 orang luka-luka. Korban meninggal tersebar di 6 kecamatan, yakni Pantar Tengah, Pantar Timur, Alor Tengah Utara, Alor Timur Laut, Alor Selatan, dan Pureman.

Untuk kerusakkan infrastruktur jalan, Beli menyebutkan, ada di 57 ruas jalan yang tersebar di 10 kecamatan dan 35 desa dan kelurahan. Sementara kerusakkan jembatan terjadi di 14 Kecamatan dan 33 desa/kelurahan, sedangkan abrasi pantai dan kali terdata di 54 titik di 11 kecamatan dan 44 desa/kelurahan.

Untuk kerusakkan tambatan perahu, Beli menyebutkan, tercatat di 20 lokasi yang tersebar di 9 kecamatan dan 20 desa/kelurahan. Sementara untuk kerusakkan rumah warga terdata sebanyak 1.913 unit di 18 kecamatan dan 100 desa/kelurahan. Dari total tersebut, sebanyak 672 unit rusak berat, ada 475 rusak sedang, dan 786 rusak ringan.

Data berikutnya, ungkap Beli, ada fasilutas umum, sawah, perkebunan, bengkel, kios, pasar, dan lainnya terjadi di 12 kecamatan dan 33 desa/kelurahan.

Kali yang semakin meluas akibat banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Alor

Menurut Beli, data ini masih sementara dan berharap dalam waktu dekat data yang ada bisa lengkap untuk dibawah ke pemerintah pusat.

“Ketika Kepala BPNPB datang Alor minta data secepatnya dibawah ke BNPB. Kepala BNPB juga ketika itu menyinggung soal relokasi bagi warga jika menginginkan. Apabila kalau relokasi, maka anggarannya dari PUPR, tapi kalau tetap dilahan masing-masing maka anggaran di BNPB,” tandas Beli.

Beli juga menambahkan, peristiwa bencana seperti ini biasanya masa tanggap darurat selama 14 hari diperlakukan, kemudian ada perpanjangan hingga ketika ada mau penangganan fisik yang disebut pemulihan, dan selanjutnya baru pada tahap rehabilutasi dan rekonstruksi.(osm/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

google.com, pub-4291941378970298, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *