Belu, News  

Kabupaten Belu Punya 3 Klinik Narkotika, 2 Orang Jalani Rehabilitasi di Tahun 2020

Kabupaten Belu Punya 3 Klinik Narkotika, 2 Orang Jalani Rehabilitasi di Tahun 2020
Rapat Koordinasi Pengembangan dan Pembinaan Kota/Kabupaten Tanggap Ancaman Narkoba bagi instansi pemerintah, yang digelar Badan Narkotika Nasional Kabupaten Belu bertempat di Ballroom Hotel Matahari Atambua, Rabu (5/5/2021). foto by tim Kominfo Belu

TIMORDAILYNEWS.COM, ATAMBUA – Kabupaten Belu yang berada di wilayah perbatasan RI-RDTL saat ini memiliki tiga klinik untuk pengobatan narkotika.

Tiga klinik dimaksud antara lain, Klinik Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Belu, Klinik Pratama BNNK, Klinik Rumah Sakit Halilulik.

Pada tahun 2020 lalu, ada dua orang yang menjalani rehabilitasi narkotika pada klinik-klinik ini.

Hal ini disampaikan Kepala BNNK Kabupaten Belu, Muhammad Rizal dalam Rapat Koordinasi Pengembangan dan Pembinaan Kota/Kabupaten Tanggap Ancaman Narkoba bagi instansi pemerintah, yang digelar BNNK Belu bertempat di Ballroom Hotel Matahari Atambua, Rabu (5/5/2021).

“Di tahun 2020 ada dua orang yang menjalankan rehabilitasi di BNNK sedangkan pada tahun 2021 belum ada kasus Narkoba,” ungkapnya.

Dikatakannya, rapat koordinasi ini penting dilakukan bersama stakeholder sehingga ada berpartisipasi dan beradaptasi di mana terjadinya bahaya narkoba.

“Sehingga kita yang mengikuti kegiatan ini harus memberikan pemahaman kepada yang lain dan harus ditindak lanjuti untuk mewujudkan Kabupaten Belu yang bebas dari Narkoba,” ujarnya.

Dirinya berharap setiap stakeholder untuk merangkul, saling menguatkan dan memberi pemahaman bagi para generasi muda supaya jangan pernah terlibat dalam narkoba khususnya di Kabupaten Belu.

Wakil Bupati (Wabup) Belu, Aloysius Haleserens saat membuka dengan resmi rakor ini  mengatakan, ancaman narkoba di Kabupaten Belu merupakan persoalan bersama dan indonesia saat ini berada pada kondisi darurat Narkoba.

Dengan kondisi seperti ini, lanjutnya, perlu ada gerakan bersama, bersatu padu untuk menanggulangi ancaman-ancaman yang dilakukan ke depan, sehingga bisa mencari solusi, karena Kabupaten Belu berada pada titik perbatasan RI-RDTL.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, hasil penelitian BNNK pada tahun 2019 data menunjukan kurang lebih 1,8 persen penduduk Indonesia sudah memakai Narkoba, jumlahnya mencapai 3,4 juta orang.

Dan di perkotaan sekitar 2,2 persen pengguna. Artinya sebagian besar korban narkotika itu adalah saudara kita yang berusia produktif 15 tahun sampai dengan usia 59 tahun.

Oleh karena itu pemerintah daerah berupaya keras melalui lembaga yang ada untuk melakukan kebijakan untuk memberikan pembinaan bagi intansi pemerintah daerah.

Sehingga harus melibatkan setiap stakeholder dimana ada tokoh adat, tokoh Agama, para pemuda, tokoh wanita.

Semua harus dilibatkan dalam melakukan sosialisasi akan bahaya narkoba, dengan harapan untuk mewujudkan Kabupaten Belu yang bersih dan bebas dari Narkoba.

“Kehadiran kita di sini untuk mengingatkan atau memberitakan kepada setiap orang agar tidak terlibat dalam narkoba,” kata Wabup Haleserens.

Untuk diketahui, kegiatan rakor ini dilakukan berdasarkan Keputusan Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten Belu Nomor Kep. 14/IV/2021/ BNNK Belu.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pemahaman peserta tentang pentingnya peran serta masyarakat dalam menciptakan kota/kabupaten tanggap ancaman Narkoba.

Serta terjalinnya komunikasi, koordinasi dan sinergitas antara BNNK Belu dengan intansi Pemerintah Kabupaten Belu dalam mewujudkan kota/kabupaten tanggap ancaman Narkoba.

Tampil sebagai pemateri dalam kegiatan ini, Wakil Bupati Belu, Aloysius Haleserens dengan judul materi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Belu dalam program P4GN,

Kepala Kejaksaan Negeri Atambua, Alfonsius G. Loe Mau, dengan judul materi Narkotika dan Aspek Hukumnya, pejabat yang mewakili Kapolres Belu/Kasat Narkoba, Iptu Hadi Samsul Bahri dengan judul materi Permasalahan Narkoba di Kabupaten Belu. (kominfobelu/TIMOR DAILY/TIMORDAILYNEWS.COM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *