News  

Kisah Yulius Sir Bertahan Hidup Selama 4 Bulan Di Hutan, Hingga Dijemput Pemerintah Dan TNI Dari Kodim Alor

Kisah  Yulius Sir Bertahan Hidup Selama 4 Bulan Di Hutan, Hingga Dijemput Pemerintah Dan TNI Dari Kodim Alor

Yulius Sir mengenakan baju kaos krah warna putih garis biru

Ini kisah nyata, bukan ceritera fiksi. Sebuah kejadian unik dan memilukan yang dijalani oleh Yulius Sir (33) warga desa Boweli, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Provinsi NTT.

Dirinya rela bertahan hidup seorang diri ditengah hutan rimba selama 3 bulan (dari Januari hingga awal april 2021) untuk menyelamatkan dirinya karena ketakutan yang menghantuinya.

Kendati sudah bersembunyi di hutan selama 3 bulan, Selepas dari itu Yulius kemudian masih bersembunyi selama sebulan lagi di sebuah pondok kebun milik Bapak Herman di Kelurahan Kabola, hingga akhirnya diselamatkan pemerintah kelurahan Kabola dan aparat TNI Kodim 1622 Alor, pada tanggal 5 Mei 2021 pekan lalu.

Apa sebenarnya yang dialami Yulius hingga ia rela lari ke hutan, dan bagaimana kisahnya hingga ia harus bertahan hidup ditengah hutan belantara tersebut.

Yulius yang ditemui Wartawan di Rumah Ketua RW.01 Kelurahan Kabola, Melki Lobain pada Senin 11 Mei 2021 tampak tenang, dan sedikit hati-hati untuk berbicara ketika diajak komunikasi.
Namun akhirnya Yulius berani memberikan penjelasan, setelah Ketua RW.01 Kelurahan Kabola, Melki Lobain memediasi komunikasi tersebut.

Yulius kemudian dengan mata berkaca-kaca mengkisahkan tentang alasannya mengapa ia harus lari dan bertahan hidup di hutan selama 3 bulan dengan hanya mengkomsumsi buah dari sebuah tanaman melata, dan minum air seadanya.
Menurut Yulius, dirinya lari ke hutan karena merasa ketakutan untuk mengamankan atau menyelamatkan dirinya. Tindakan ini menyusul masalah kekuarga dikampungnya pada tahun 2019 lalu hingga berujung dirinya dipidana penjara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Mola-Kalabahi.

Saat itu, kisah Yulius, terjadi perselisihan keluarga dikampungnya, dan kemudian dirinya diproses hukum hingga menjalani penjara kurang-lebih satu tahun, kemudian dalam perjalanan pada bulan Januari 2021 dirinya mendapat asimilasi berkaitan dengan pandemi covid-19.

‘Karena dapat asimilasi, Saya diperbolehkan pulang ke rumah. Namun saya ketika dirumah batin saya tidak tenang, karena mendengar informasi bahwa ada keluarga cari. Saya mengalami ketakutan, dan saya memutuskan untuk kembali ke LP untuk mengamankan diri. Tetapi ketika saya ke LP, petugas bilang kau punya rumah bukan disini lagi. Setelah mendapat jawaban itu, Saya akhirnya tinggalkan LP dan berjalan saja keluar dari halaman LP tanpa arah-tujuan. Saya dengan berjalan kaki melewati rumah penduduk, masuk ke kebun-kebun dan hutan tanpa menyadari waktu pagi, siang hingga sore dan malam. Akhirnya saya tanpa menyadari karena dihantui perasaan takut tersebut entah bagaimana telah berada dihutan yang ditempati selama 3 bulan tersebut, dan Saya tidak mengetahui nama tempat tersebut,” ungkap Yulius ysng didampingi Ketua RW, Melki, Ketua RT setempat, Christian, dan mama kandung Yulius, Bendelina yang baru beberapa hari bersama Yulius dirumah tersebut setelah mengetahui keberadaan anak sulung dari 5 bersaudara tersebut.

Selama tinggal dihutan, Yulius melanjutkan, dirinya hanya mengenakan pakaian dibadan, karena ketika dirinya tinggalkan rumahnya hanya memiliki satu pasang pakaian, yakni pakaian yang dikenakan tersebut.
Dengan pakaian yang dikenakan itu, Yulius berusaha mempertahankan hidupnya di hutan dengan mencari makan, minum, dan tidur.

“Saya tidur dibelukar atau ditanah di gua. Untuk makan, saya biasa makan ada buah berwarna merah dari sebuah tanaman melata. Kadang daunnya juga saya santap. Sedangkan minum, untung saja didalam gua yang ada dihutan tersebut dari batu bagian langit gua tersebut ada tetesan air yang jatuh. Tetesan air tersebut yang saya pakai minum,” ungkap Yulius yang mengaku dirinya mengemban jabatan sebagai anggota BPD didesa Boweli.

Yulius Sir

Menurut Yulius, dirinya selama berada dihutan tidak ada perasaan takut dengan suasana yang ada, meski dirinya pernah melihat seekor ular dengan ukuran lumayan besar. Hal ini, karena dirinya merasa aman dari perasaan ketakutan akibat keluatiran dicari oleh keluarganya yang bermasalah dengannya.

“Saya tidak memikirkan rambut saya sudah panjang dan jenggot serta bareok tumbuh subur. Saya juga tidak pernah mandi, dan terkadang tidak makan sama sekali. Namun yang penting perasaan ketakutan saya hilang. Saya tidak memikirkan waktu. Saya hanya tahu sudah malam kalau bulan sudah naik. Waktu hari pun demikian, saya tahu kalau sudah hari minggu karena dengar sayup-sayup lonceng berbunyi,” ujar pria berambut keriting dan berkulit hitam ini, serta memiliki ukuran tinggi badan sekitar 150 Cm dan memiliki bodi yang tidak gemuk.

Selain mengkisahkan hal tersebut, Yulius yang telah beristri dan memiliki seorang putri ini menceriterakan, hal unik lainnya ketika ia dihutan, saat ia tertidur beberapa kali mendapat mimpi ada pesta atau ada kegiatan dihutan tersebut yang dilakoni oleh banyak perempuan.
Hal unik berikut lainnya, ujar Yulius, suatu waktu ketika dirinya tengah minum air di gua didalam hutan tersebut, dilantai gua tempat jatuh air menetes tersebut dirinya menemukan sebuah batu berukuran kecil, batu tersebut ada warna merahnya.
“Batu ini saya simpan, dan sepertinya memberikan kekuatan kepada saya. Namun sayang batu ini hilang,”tandas Yulius.

Yulius menambahkan, dirinya setelah dari hutan tersebut, kemudian berpindah ke kebun masyarakat milik Bapak Herman. Di kebun ini atas bantuan Bapak Herman, dirinya tinggal selama satu bulan di pondok tersebut hingga dijemput oleh Lurah Kabola, Dominggus Maulaka, Bapak RW, Melki Lobain, Ketua RT, Christian, aparat TNI dari Kodim 1622 Alor, Bapak J. Klakik dan Bapak Nathan Ouwpoly.

“Ketika saya dari hutan datang ke kebun Bapak Herman, saya menceriterakan semuanya kepada Bapak Herman. Bapak Herman minta saya untuk tempati pondok kebunnya. Bapak Herman memberikan petek agar saya bisa buat api, beliau juga membawa pakaian untuk saya ganti, dan membawa silet untuk mencukur jenggot saya. Bapak Herman kemudian membawa Bapak Lurah, RW dan RT, serta Bapak TNI jemput saya,” tambah Yulius yang kondisinya saat ini semakin terawat setelah beberapa hari tinggal di rumah Ketua RW, Melki Lobain.

Berkaitan dengan kisah Yulius Sir ini, Lurah Kabola, Dominggus Maulaka dan Ketua RW, Melki Lobain membenarkan penjemputan Yulius ole pihak pemerintah Kabola dan aparat TNI dari Kodim 1622 Alor di kebun milik Bapak Herman.

Menurut Dominggus, hutan tempat Yulius sembunyi selama 3 bulan tersebut namanya Beiyele Bang.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *