google.com, pub-4291941378970298, DIRECT, f08c47fec0942fa0
News  

Menelisik Jejak Pemulung Tua Mengais Rupiah di Kota Karang

Menelisik Jejak Pemulung Tua Mengais Rupiah di Kota Karang
Anton Poit, Warga Kota Kupang yang kesehariannya memungut barang bekas untuk bertahan hidup

TIMORDAILYNEWS.COM, KUPANG – Warga Kota Kupang yang terkenal dengan sebutan Kota Karang tentu sering melihat pak tua ini namun mungkin sedikit yang tahu namanya.

Pak tua ini setiap hari menyusuri jalanan dengan sebuah karung plastik untuk memungut barang yang mungkin bisa menghasilkan rupiah demi menyambung hidup.

Adakah yang peduli? mungkin ada, mungkin juga tidak. Karena setiap hari masing-masing orang bergelut dengan kerasnya kehidupannya.

TIMOR DAILY berkesempatan menyapa langsung pak tua ini. Namanya Anton Poit yang kini sudah berusia hampir kepala tujuh tepatnya 67 tahun.

Sebagian besar hidup Anton Poit dihabiskan sebagai seorang pemulung jalanan dengan kisah yang cukup menyesakkan dada.

Betapa tidak! Pemulung tua ini sudah 43 tahun memulung dan sejak awal menggeluti pekerjaannya sebagai pemulung, nasib hidupnya tak kunjung berubah.

Seperti kisahnya kepada Timor Daily, Rabu (24/03/2021) pagi sekitar pukul 09.00 WITA di Kota Kupang, Anton mengisahkan bahwa dirinya menjadi pemulung sejak tahun 1978.

“Saya sudah lama bekerja sebagai pemulung, tiap pagi saya harus keluar dari rumah untuk mencari barang bekas di tempat sampah yang ada di sekitaran kota Kupang,” tutur pria tua yang telah ditinggal mati sang istri ini.

Anton memang memiliki anak namun anaknya sudah berkeluarga dan tidak pernah melarangnya untuk melakukan aktivitas sebagai pemulung.

“Anak tidak larang. Karena memang saya ingin mencari uang sendiri untuk bertahan hidup,” ujarnya.

Ditanya soal pendapatan setiap hari, ia mengatakan hasil penimbangan barang bekas yang ia dapat kadang tidak menentu.

“Kadang hasilnya Rp 5.000 dan bisa Rp 10.000 itupun kalau ada berkat,” tandasnya sembari tersenyum.

Uang yang ia peroleh dari hasil timbangan barang bekasnya, dikumpulkan dan digunakan untuk membeli makanan dan untuk bertahan hidup.

“Ya uang saya dapat saya pakai beli makanan dan sebagai modal untuk hidup.  Kan menusia itu harus bekerja dong, kalau tidak bekerja bagaimana bisa hidup,” ungkapnya.

Anton mengaku dirinya pernah mendapat bantuan dari pemerintah dan dirinya bersyukur untuk itu. “Ya saya pernah dibantu pemerintah dengan uang Rp 10 juta tapi itu bantuan bedah rumah,” papar pria tua yang beralamat di Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo itu.

Kisah hidup kakek Anton ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang harus berusaha sekerasnya untuk bisa bertahan hidup. Jangan lupa bersyukur dan berbagi atas rejeki yang diperoleh setiap hari.

Yakinlah Tuhan tidak meninggalkan kita dan memberi cobaan yang melebihi kemampuan kita untuk menghadapinya. (nel/TIMOR DAILY/TIMORDAILYNEWS.COM)

Laporan Wartawan : Kornelis Bria

Editor : Marselino

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *