Pantai Kolbano dan Jepretan Tangan Ajaib Anak Pantai

Hasil jepretan Jesen Kase, fotografer cilik di Pantai Kolbano

TIMORDAILY.COM, TTS – Pantai Kolbano, Kabupaten Timur Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) wilayah yang memiliki destinasi wisata yang sangat menarik dan unik.

Banyaknya lokasi pantai yang masih alami dan terjaga itu, menjadi daya tarik tersendiri.

Pantai Kolbano memilik spot foto keren, selain menikmati matahari terbit dan terbenam di punjak gunung Kolbano yang tidak kalah menakjubkan mata dan memang memanjakan para wisatawan untuk berlama-lama di sana.

Pantai Kolbano ini memiliki pasir putih kasar bercampur bebatuan dengan tekstur seperti merica, serta bebatuan warna-warni.

Air lautnya yang sangat jernih dan karang di bawah terlihat jelas dengan ombak yang sedang.

Pantai ini dibilang aneh namun nyata, dimana pasir memiliki dua teksture seperti merica dan tepung terigu serta warna-warninya bebatuan yang menyatu dalam satu lokasi.

Kemudian ada spot terbaik untuk menikmati matahari terbenam yakni Bukit Kolbano. Bukit dengan pemandangan hamparan laut dan spot sunset.

Jika berkunjung ke wilayah tersebut, maka wisatawan akan diserbu oleh anak-anak setempat. Mereka mendekat bergerombol menawarkan jasa tukang foto dengan cepretan yang sangat menarik dan lucu.

Tanpa mematok harga, sekitar 2 atau 3 anak-anak usia 7 hingga 15 tahun menempel terus kepada pengunjung. Menawarkan jasa yang tanpa mematok harga sebuah jepretan kece tersebut.

Walaupun masih anak-anak, mereka sudah pernah dilatih dan terlatih.

Oleh fotografer Traveloka, mereka menerima materi atau ilmu fotografi agar anak-anak setempat melalui tangan ajaibnya dapat menghasilkan karya yang terbaik.

Jesen Kase, fotografer cilik di wilayah Pantai Kolbano mengatakan dengan terlatihnya dia dan teman-temannya bisa untuk meringankan beban orang tua.

Karena jika tidak kerja maka keluarga mereka akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Belajar foto dari SD sampai sekarang (SMP). Jadi ya sudah terlatih menghasilkan hasil bagus,” kata Jesen kepada TIMOR DAILY.

Saat menawarkan jasa, ada beberapa pengunjung yang meminta untuk memfotret pengunjung dengan latar belakang pantai dan batu karang serta lainnya.

Bukan cuma motret melainkan mengarahkan juga pengunjung agar menarik dan kece saat mengabadikan momenn.

Gaya yang ditawarkan para fotografer cilik yakni memberi makan bukit, seolah mencabut rumput diatas bukit, lanscape, levitasi, dan lainnya.

Dengan tangan yang sudah terlatih hasilnya pun tidak mengecewakan.

“Banyak teknik yang dipelajari, dengan latar bukit, panorama, lainnya,” ucapnya.

Soal jasa foto tidak dipatok, namun diketahui setiap harinya fotografer cilik itu bisa menghasilkan uang ratusan ribu per hari.

Bahkan mereka bisa membantu kedua orang tuanya memenuhi kebutuhan hidup.

“Sehari tidak nentu dapat uangnya. Tapi pasca pandemi, pengunjung pun sedikit,” ucapnya.

Walaupun tidak punya handphone canggih dia sudah bisa mengoperasikan semua merek atau jenis smartphone pengunjung yang hendak memakai jasanya.

“Iya saya tidak punya handphone, tapi bisa pakai handphone orang. Karena kan sudah setiap hari (motret dengan handphone mereka berbeda),” ujar Jesen saat menawarkan jasanya.

Dalam ceritanya, dia baru belajar foto satu tahun lalu ketika masih duduk di kelas tiga SMP. Namun sekarang sudah mahir.

Dari pendapatan per harinya, prioritas untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya ditabung untuk membeli handphone.

“Uangnya buat beli beras, sayur atau dikasih ke mama. Kalau ada sisa ditabung buat beli handphone canggih,” ungkapnya.(VIA/TIMOR DAILY/TIMORDAILYNEWS.COM)

Editor: Oktavianus Seldy

google.com, pub-4291941378970298, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *