Petani  di Kabupaten Malaka Pasrah Rumah dan Lahan Pertanian Hancur Disapu Banjir Benenai

Fabrianus Seran ketika memantau kebun jagung miliknya bersama TIMOR DAILY, Rabu (14/4/2021).

TIMORDAILY.COM, MALAKA – Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Begitulah kisah kehidupan masyarakat korban banjir luapan Sungai Benenai di Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini.

Pasalnya badai siklon tropis seroja yang menghantam wilayah Nusa Tenggara Timur dan perairan sekitarnya pada 4 April meninggalkan kisah sedih dan duka  bagi masyarakat Malaka.

Tak hanya permukiman warga 29 desa, banjir bandang luapan Benenai  ikut menghancurkan ratusan hektare tanaman padi dan jagung milik warga.

“Sangat sedih atas bencana banjir luapan Benenai di tahun 2021 ini,”kisah Fabrianus Seran kepada TIMOR DAILY, Rabu (14/4/2021) ketika diajak memantau kebun jagung miliknya.

Sebab bencana yang menimpa wilayah desanya. Tak hanya tempat tinggal yang dirusak, banjir juga menutupi tanaman padi dan jagung miliknya bersama warga lainnya hingga tak bisa dipanen.

“Ketinggian air pada tanggal 4 April 2021 itu mencapai 3 meter,”kata Seran.

Seran meyakini, lahan padi dan jagung yang terletak di Desa Fahiluka, Desa Lawalu dan Desa Motaain, Desa Naimana, Desa Bereliku, Tecamatan Malaka Tengah yang jelas hancur disapu banjir bahkan ditutupi lumpur tebal.

Setidaknya ada ratusan hektar tanaman jagung yang seharusnya dipanen pada bulan ini namun gagal, akibat telah disapu luapan banjir.

Kondisi Rumah Warga Desa Naimana, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka.

“Yahh…stres bahkan sedih tetapi mau bagimana, kita waktu itu hanya berusaha selamatkan diri,”ucap Seran yang meangaku ternak sapi dan babi milikinya sebanyak 2 ekor tak bisa diselamatkan.

Banjir bandang luapan Benenai itu diketahui merupakan banjir kiriman dari Kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan termasuk Kabupaten Belu.

“Kita hanya bisa pasrah kepada tuhan. Satu-satunya mata pencaharian ini gagal panen,”jawab Seran yang meyakini bahwa jagung di kebun hanya bisa dikonsumsi oleh ternak babi.

Parahnya lagi, selain gagal panen. Rumah miliknya juga terancam ambruk, walau begitu ia mengaku tak bisa berharap, hanya bisa pasrah kepada tuhan. Entah apa salah kami rakyat kecil, sehingga selalu menjadi korban.

“Kepada Tuhan kita berdoa, agar pemerintah bisa memulihkan kehidupan kita saat ini, selain beri bantuan sembako, kita juga butuh rumah layak huni atau rumah sehat.

Di Desa Naimana dan Bereliku, terpantau rumah warga  belum layak dihuni, sebab ada beberapa rumah tertutup lumpur.

Tampaknya anak-anak bermain lumpur dan orang tua duduk di pinggir jalan sembari menatap rumah yang sudah porakporanda akibat banjir bandang.

 Vita warga Naimana korban banjir bandang mengeluh kekurangan segalanya karena tidak ada pasokan makanan bagi keluarganya.

“Ada beras yang mereka kasih mau masak, tapi tidak ada minyak tanah. Kami mau beli uang di mana,”ungkap Vita.

Penajabat Buapati Malaka, Victor Manek saat dikonfirmasi sebelumnya menjelaskan warga pengungsi dievakuasi ke kantor desa masing-masing, pemerintah menyediakan kebutuhan pangan.

“Jadi mereka dipulangkan ke rumah masing-masing. Tapi bagi warga yang rumahnya rusak berat untuk tinggal, mereka akan ditempatkan di kantor desa,”kata Viktor. (via/TIMORDAILY/TIMORDAILYNEWS.COM).

Editor: Oktavianus Seldy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *