Belu, News  

Polres Belu Lakukan Mediasi, Ans Dacolo Disebut Tidak Beritikad Baik Saat Minta Maaf

Polres Belu Lakukan Mediasi, Ans Dacolo Disebut Tidak Beritikad Baik Saat Minta Maaf
Yoseph Pito Atu

TIMORDAILYNEWS.COM, ATAMBUA – Pihak keluarga Korban Dugaan tindak pidana pencemaran nama baik Stefanus Atok Bau yang merupakan Ketua Markas Cabang LVRI Kabupaten Belu oleh akun Facebook Ans Dacolo atau dengan nama asli Fransiskus Bau untuk tetap dilanjutkan dengan proses hukum sesuai Undang-undang yang berlaku.

Hal itu dikatakan pihak keluarga korban yang diwakili oleh Yoseph Pito Atu, pasalnya menurut Yoseph, Fransiskus Bau kurang memiliki etikad baik untuk mengakui kesalahaan dan meminta maaf.

Ia berdalih permohonan maaf itu hanya sebatas kesalahan dalam penulisan nama lengkap Stefanus Atok Bau dan Rofinus Waik di media sosial Facebook beberapa bulan yang lalu.

“Kita sudah dimediasi oleh pihak Penyidik Polres Belu, di antaranya korban Bapak Stefanus Atok Bau dan Rofinus Waik hadir dan juga terlapor Fransiskus Bau atau Ans Dacolo juga hadir, tetapi kurang etis, pak Ans mengakui salah dan minta maaf, kenapa demikian, pak Ans berdalih dan mengakui kesalahaan dan minta maaf hanya karena menulis nama lengkap Pak Fanus Atok dan Rofinus Waik,” ujar Yoseph Atu, Minggu (2/5/2021).

Dalam mediasi yang dilaksanakan pada, Sabtu, 01 Mei 2021 itu, kata Yoseph, Fransiskus Bau memohon maaf karena menulis di Facebook tidak memakai Inisial dan hal ia tulis diakui Fransiskus Bau bahwa ia mendengar informasi dari orang-orang dan masalah ini seharusnya tidak seperti ini.

“Kita mempertanyakan, kenapa Pak Ans mendengar dari orang lain lalu tidak klarifikasi ke kantor Macab atau bertemu Pak Stefanus Atok Bau dulu, ini langsung saja tulis di Facebook,” tegas Yoseph.

Hal yang aneh dan membuat pihaknya kecewa adalah, Apa yang sudah di tulis di Facebook berbeda dengan apa yang ia mengakui.

“Contoh dalam tulisan di Facebook, katanya Bapak Agustinus Kehi serahkan uang 20 juta, tapi di saat mediasi bilang 5 juta, ini akibat dari hanya mendengar atau karena punya motif lain dan langsung mengkerdilkan nama orang,” ujarnya.

Bahkan menurut Yoseph, Ada nama-nama yang telah ia sebut dalam postingan itu tidak pernah ada masalah pribadi atau masalah dalam urusan veteran dengan Bapak Stefanus Atok.

“Orang-orang yang ia tulis datang dan minta maaf, katanya mereka tidak tau nama mereka di tulis oleh Pak Ans, ini sebenarnya apa motif pak Ans, ini kami duga pak ans memprovokasi masyarakat lalu ingin menghancurkan nama baik bapak Fanus Atok,” pinta Pito sapaan akrab Yoseph Pito Atu.

Hal lain juga diugkapkan Pito bahwa beberapa hari terakhir ini yang diduga Pak Ans bersama rekan-rekanya seperti Yulius Bessin, Gaspar Besing, diduga ada Kaminvited Kupang dan salah satu oknum yang biasa disebut Polisi Adat pergi menemui para veteran lalu mendesak veteran ini mengaku bahwa pernah menyerahkan uang ke Bapak Fanus Atok Rp 40.000.000.

“Mereka pergi ke rumah para veteran, malam hari lagi dan mendesak untuk mengaku serahkan uang ke Bapak Fanus Atok, di rekam lagi, ini kan lucu, hal ini sudah masuk dalam dugaan tindakan intimidasi orang untuk mengakui suatu perbuatan yang orang itu tidak pernah lakukan, sebenarnya apa motif dengan perbuatan seperti ini, ini juga kami dugaa memaksa orang untuk melakukan pembohongan publik,” tegas Pito.

Hal lain yang terjadi juga, deretan sakit hati ini, ingin mengupayakan untuk menggelar aksi demonstrasi terhadap Bapak Stefanus Atok Bau sebagai Ketua Macab LVRI Kabupaten Belu dengan menghadirkan para mahasiswa sebanyak 200 sampai 400 orang serta melibatkan organisasi seperti GMNI, PMKRI dan lain-lain.

“Ini video kami peroleh, persiapan aksi demonstrasi, kepada pak Ans, kalau mau aksi silahkan itu hak demokrasi untuk menyampaikan pendapat, kita tidak larang tetapi harus dengan cara profesional.

Bahkan disampaikan Yoseph Atu, di Kabupaten Belu dan Malaka sendiri masih sangat banyak calo-calo veteran yang diduga telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan calon veteran dan veteran.

“Kemarin saya bilang ke Pak Ans saat mediasi, di Belu ini banyak calo, kenapa tidak kejar calo-calo itu tetapi hanya mau kejar Fanus Atok saja, apa sedikit Fanus Atok, apa sedikit Kilometer 16,” kesal Yoseph.

Sedangkan oknum Kaminvited Kupang Mayor Jaka Suwarta yang diduga minta uang pelicin Rp 13 Juta dari masing-masing Veteran sebanyak 17 orang berdasarkan rekaman yang pihaknya peroleh dan calo atas nama Yulius Bessin masing-masing orang Rp 3 juta sehingga total Rp 16 juta per orang veteran ini tidak dikejar atau diproses hukum.

“Ini semua kita punya rekaman bagaimana oknum-oknum ini meminta uang pelicin, setelah dikonfirmasi ke Mayor Jaka Suwarta dibilang itu umpan-umpan saja, kalau kasih ayam ia terima, umpan-umpan saja tetapi telpon para veteran ini berulang kali, bahkan ajak para veteran ini kalau ia di Atambua minta bertemu sendiri, maksudnya apa begini,” papar Pito.

Untuk itu, Pito berharap tentunya kepada Pak Ans Dacolo untuk lebih jelih melihat masalah dan mengedepankan asas praduga tak bersalah, kalau hanya mengkaui salah dan minta maaf karena tulis nama orang tanpa inisial, minta maaf nama Bapak Fanus Atok dan Rofinus Waik sudah terlanjur rusak.

“Kami dari pihak keluarga sangat merasa dirugikan, nama baik bapak kami hancur karena ulah oknum-oknum yang diduga kurang memahami bagaimana beretika menggunakan media sosial yang akhirnya merugikan nama baik bapak kami,” tegasnya lagi.

Hal lain dikatakan Yoseph Atu, pihaknya akan bersurat secara resmi ke Dinas terkait di mana-mana pak Ans bekerja saat ini agar dapat memberikan binaan.

Sementara itu, korban Stefanus Atok yang didampingi keluarganya tidak menerima dengan semua perbuatan dan tindakan Ans Dacolo yang telah dengan sadar menghujat nama baik Fanus Atok dan Lembaga LVRI di Media Sosial Facebook, yang akhirnya berdampak pada nama baik menjadi rusak.

“Dari saya tidak mau damai, berdasarkan tidak mau damai, ditulis bahwa makan uang orang, makan nama orang, tulis itu nama saya sudah hancur di mana-mana,” kata Fanus.

Ditambahkan Fanus, selama ini tidak ada kordinasi sebagai keluarga. Dijelaskanya bahwa sampai saat ini Fransiskus Bau diduga memprovokasi orang di mana-mana.

“Sampai baru-baru, kemarin Mantri Frans, Gaspar Besing, Yulius Bessin dan Polisi adat itu pergi dan intimidasi veteran agar mengaku menyerahkan uang ke saya 40 juta,” tegas Atok Bau.

Fransiskus Bau alias Ans Dacolo yang dikonfirmasi Minggu (2/5/2021) membenarkan telah terjadi mediasi di Polres Belu dan dirinya meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan dalam hal menulis nama orang. Sedangkan mengenai isi postingannya adalah fakta.

Mengenai langkah Stefanus untuk terus menempuh jalur hukum, Ans menyatakan siap menghadapinya.

“Saya memohon maaf karena menulis namanya tidak pakai inisial sehingga saya melanggar UU ITE,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Akun Facebook Ans Dacolo dilaporkan Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Belu Stefanus Atok Bau dan Ketua Ranting Kecamatan Nanaet Duabesi Rofinus Waik ke Polres Belu.

Laporan itu terkait dugaan pencemaran nama baik melalui media elektronik.

Dalam laporannya itu, Stefanus Atok Bau melaporkan tentang tindak pidana pencemaran nama baik melalui media elektronik dengan Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE. (tim/veg/TIMOR DAILY/TIMORDAILYNEWS.COM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *