google.com, pub-4291941378970298, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Banjir Bandang di Malaka, 5 Orang Meninggal, Belasan Ribu Warga Lainnya Mengungsi

Ribuan warga Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur mulai mengungsi akibat air meninggi, Minggu (5/4/2021). (Foto: TIMORDAILYNEWS/Seldy Berek)

TIMORDAILY.COM, MALAKA – Bencana banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur ( NTT ) dalam sepekan hingga senin ( 5/4/2021) menyebabkan 5 warga meninggal dunia dan belasan ribu lainnya mengungsi ke tempat aman.

Terpantau, Senin ( 5/4/2021 ), belasan ribu warga yang dievakuasi itu berasal dari empat kecamatan di Kabupaten Malaka, yakni Kecamatan Malaka Tengah, Malaka Barat, Weliman dan Wewiku.

Sementara lima orang yang meninggal dunia berasal dari tiga kecamatan, yakni Kecamatan Malaka Tengah, Malaka Timur dan Botin Leobele.

Korban yang meninggal dunia, sesuai informasi yang dihimpun di Kecamatan Malaka Tengah seorang laki-laki berusia kurang lebih 50 tahun) dimana sebelum banjir almarhum diketahui menglami sakit. Sedangkan empat orang lainnya (2 laki-laki termasuk anak kecil dan 2 perempuan) merupakan korban akibat terbawa banjir.

Proses Evakuasi Jenazah Korban Banjir di Malaka.Senin 5 April 2021.

Sebagai tindakan tanggap darurat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka telah menyiapkan tempat pengungsian di beberapa sekolah di Betun, ibukota Kabupaten Malaka, yakni SMPK Sabar Subur, SDK 1 Betun, SDK 2 Betun, SD GMIT Betun dan Aula Gereja Katolik Dekenat Malaka.

Kapolres Malaka AKBP Albert Neno, SH saat ditemui media di sela-sela kesibukannya bersama anggotanya mengevakuasi warga korban banjir mengungkapkan banyak kendala evakuasi yang dialaminya.

“Kendala evakuasi banyak, tapi hari ini ada kemudahan. Kemarin kondisi air terlalu deras, anggota tidak bisa tembus (masuk). Beberapa sarana digunakan tapi tidak bisa tembus”, kata Kapolres Albert, Senin ( 5/4/2021 )

Menurutnya, proses evakuasi efektif di siang hari, karena malam gelap. Sehingga pihaknya bersama personil dan TNI serta relawan lainnya berupaya semaksimal mungkin untuk mengevakuasi korban.

“Tadi malam beberapa sarana evakuasi, yakni traktor dan speed boad didatangkan dari Kabupaten Belu. Tapi, tadi malam kesulitan evakuasi pakai traktor karena arus air terlalu kencang. Jadi, traktor masuk sampai tengah mesinnya selalu mati”, bebernya.

Namun sejak pagi tadi hingga, Senin (5/4) sore, sekira belasan traktor yang sudah bisa digunakan untuk proses evakuasi warga yang berada di pelosok desa atau jauh dari jalan umum.

“Saat ini sudah dimudahkan karena air sudah mulai turun sehingga mobil truk juga sudah bisa masuk. Sedangkan yang jauh dari jalan umum dievakuasi pakai traktor”, ucap Kapolres.

Kapolres juga menegaskan, untuk saat ini prioritas utama adalah makan minum, karena sudah dua hari warga yang terjebak banjir kelaparan, biar tidak lelah.

Kapolres Albert sendiri tetap siaga di lokasi dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah untuk memanfaatkan juga Dinas Kebersihan untuk evakuasi hewan yang mati di pinggir jalan. Sebab, apabila tidak dievakuasi akan membusuk dan mengganggu proses evakuasi.

Sementara itu, proses evakuasi korban meninggal dunia sesuai informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, korban meninggal di sebuah sekolah yang jaraknya sekira enam kilometer.

Jenazahnya pun berhasil dievakuasi sekira pukul 15.30 Wita dan langsung dilarikan ke RSUPP Betun.

Kapolres mengharapkan pemerintah daerah menyiapkan tempat-tempat yang bisa menampung warga agar warga yang dievakuasi bisa berteduh dan beristirahat.

Terhadap korban meninggal akibat bencana banjir bandang di Malaka, saat ini media sedang berusaha mengkonfirmasi pihak – pihak terkait.(via/TIMORDAILY/TIMORDAILYNEWS.COM)

Editor: Oktavianus Seldy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *