google.com, pub-4291941378970298, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Belu, News  

Selama Willy Lay Jadi Bupati, Belu Tempati Urutan Ke-6 Stunting dan Ke-11 Gizi Buruk

Selama Willy Lay Jadi Bupati, Belu Tempati Urutan Ke-6 Stunting dan Ke-11 Gizi Buruk
Ilustrasi Gizi buruk/net

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA – Willybrodus Lay dan Drs JT Ose Luan terpilih dalam pilkada Belu tahun 2015 lalu dan memimpin Kabupaten Belu sejak tahun 2016 hingga saat ini.

Pada masa kepemimpinan tersebut, berdasarkan data dari Pokja stunting Provinsi NTT tahun 2020, Kabupaten Belu menempati urutan ke-6 dan Gizi Buruk urutan ke-11.

Hal bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan tetapi bisa saja menjadi sebuah catatan buruk dalam hal peningkatan kualitas SDM di kabupaten perbatasan ini.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya keras untuk mengatasi masalah stunting dan gizi buruk di NTT termasuk di Kabupaten Belu.

“Apa komitmen dan program intervensi yang bapak lakukan dalam mengatasi stunting dan gizi buruk di kabupaten Belu apabila bapak terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati?” tanya Moderator, Dr. Ahmad Athang dalam debat perdana calon Bupati dan Wakil Bupati Belu periode 2021-2024 di Aula Hotel Matahari Atambua, Jumat (30/10/2020).

Pertanyaan ini pun dijawab oleh pasangan calon dari Paket Sahabat Willybrodus Lay dan Drs JT Ose Luan yang kembali maju secara bersama-sama dalam Pilkada Belu tahun 2020.

Calon Bupati Willybrodus Lay menjelaskan untuk mengatasi stunting, mereka akan memberikan pendampingan sejak ibu hamil sampai 1000 hari kelahiran.

“Untuk stunting adalah program utama kami yaitu kami akan memberikan pendampingan sejak ibu hamil sampai seribu hari kehamilan. Sorry, sampai 1000 hari kelahiran,” pungkasnya.

Diterangkan bahwa bayi-bayi yang sudah lahir akan dipastikan sehat dan menyokong dengan memberikan asupan gizi yang cukup sehingga dapat mencegah atau menurunkan angka stunting.

Paket Sahabat ini juga hanya menjanjikan pemberian susu bagi anak-anak yang setelah memasuki usia 3 sampai 4 tahun di Sekolah PAUD demi terjadinya peningkatan gizi.

“Anak-anak yang setelah 3-4 tahun mereka di sekolah PAUD itu, kita memberikan tambahan minuman susu sehingga terjadi peningkatan gizi. Setiap keluarga yang ada bayi atau anaknya, kita melakukan pengukuran secara rutin sehingga kita bisa mengetahui perkembangan dari balita tersebut terkait gizi dan pertumbuhan badannya,” tutup Willy Lay. (Ronny/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Marselino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *